Selasa, 26 April 2016

Keadilan Sosial dan Pemerataan Ekonomi

Indonesia yang kita lahir didalamnya, memiliki kekayaan alam yang luar biasa. Tanah, gunung air dan lautan menyimpan begitu banyak ragam kekayaan. Tanah yang kita injak begitu subur, hutan yang menyimpan beragam flora dan fauna, lautan yg tidak hanya menyimpan cadangan ikan tapi juga gas alam di dalamnya. Rasa-rasanya tak perlu saya tulis satu persatu kekayaan alam indonesia ini. Banyak. Banyak sekali.

Hanya saja, kekayaan alam ini seakan menjadi petaka. Betapa tidak, dari sejak zaman penjajahan Belanda hingga Jepang datang, motif mereka menguasai negeri ini tidak lain ialah motif menguasai kekayaan alamnya.

Dalam konteks kekinian, ketika Indonesia sudah menyatakan kemerdekaanya, bentuk penjajahan itu kini tidak lagi berbentuk model penjajahan kolonialisme, akan tetapi berubah menjadi penjajahan model baru dengan mengatasnamakan korporasi internasional.

Padahal pasal 33 UUD 1945 mengatakan secara jelas bahwa: “Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat". Pasal ini seyogyanya menjadi tujuan kita dalam berbangsa dan bernegara, terutama dalam aspek keadilan sosial dan pemerataan ekonomi. Hanya saja rasa rasanya masih jauh dari harapan.

Pemerintahan sudah silih berganti, entah sudah berapa banyak kabinet dibentuk, hanya saja, sayangnya amanah UUD 1945 tersebut masih belum sepenuhnya dapat dilaksanakan dengan baik. Rasa rasanya seperti sulit sekali menerapkan Pasal 33 UUD 1945 tersebut, padahal pada pasal tersebut jelas sekali, bahwa Indonesia memiliki kedaulatan yang penuh terhadap kekayaan sumber daya alamnya.

Dari permasalahan diatas, setidaknya terdapat solusi yang bisa dilakukan, yaitu dengan menerapkan konsep Keadilan Sosial. Keadilan sosial seperti yang termaktub dalam sila ke lima Pancasila, yang berbunyi "Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia".

Tentu saja, keadilan yang seperti apakah yang diinginkan para pendiri bangsa hingga merumuskan sila ke lima pancasila ini. Sosial yang dimaksudkan disini bukanlah berarti Indonesia memilih faham Sosialisme, tetapi sosial disini berarti rakyat banyak. Keadilan Sosial disini berarti suatu hirarki, bahwa keadilan untuk rakyat banyak adalah lebih penting dibandingkan dengan keadilan untuk kelompok tertentu, apalagi individu tertentu.

Keadilan sosial yang juga harus dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat, seluruh usia, tidak mengenal etnis dan suku bangsa bahkan agama, dari bayi yang baru lahir hingga yang sudah tua renta, harus dapat menikmati keadilan sosial dan kesejahteraan ekonomi dari hasil hasil bumi ibu pertiwi.

Tidak boleh lagi ada anak anak balita kita yang kekurangan gizi, janda janda tua yang tidak tersantuni. Warga tak mampu yang tidak mendapatkan perhatian negara. Tidak boleh lagi ada sekolah sekolah yang rusak di pedalaman, kondisi fisik sekolah, haruslah sama antara sekolah yang di pedalaman dengan sekolah di perkotaan. Tidak boleh lagi ada, infrastruktur yang hanya terpusat di Jawa, sedang di kawasan Indonesia bagian timur, masih jauh tertinggal.

Setiap centimeter tanah pertiwi ini harus dikuasai oleh negara, di kelola oleh negara dan hasilnya di distribusikan dengan adil ke seluruh penjuru nusantara, ke seluruh rakyat Indonesia. Setiap warga berhak untuk menikmati hasil kekayaan negeri ini. Setiap warga negara berhak untuk mendapat keadilan sosial dan ekonomi dengan baik.

Sekali lagi tidak boleh lagi ada korporasi asing yang menjajah negeri ini dengan alasan kontrak kerjasama, tidak boleh lagi ada, kasus negara kalah oleh para mafia yang dibekingi asing, dan tidak boleh lagi ada, warga pribumi terkalahkan dan atau kalah saing dengan orang asing. Tidak boleh lagi ada, pribumi menjadi pembantu di negerinya sendiri, sedang asing menjadi tuannya.

Dari uraian diatas, setidaknya terdapat dua solusi yang dapat dilakukan pemerintah saat ini, yaitu:

Pertama, Nasionalisasi Perusahaan Asing yang beroperasi di Indonesia. Dengan menasionalisasi perusahaan, Indonesia dapat berdaulat di tanah nya sendiri. Dan pastinya, hasil hasil bumi Indonesia dapat seluruhnya dipergunakan untuk kemakmuran rakyat.

Apabila nasionalisasi tidak bisa dilakukan karena satu dan lain hal, maka jalan keluar selanjutnya ialah dengan TIDAK memperpanjang Kontrak Karya seluruh perusahaan asing yang beroperasi di Indonesia.

Data Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) kita menunjukkan bahwa, pendapatan APBN Perubahan tahun 2015 adalah sebesar Rp. 1.984 triliun, dengan sumber pendapatan dari sektor minyak dan gas sebesar Rp. 139,3 triliun, artinya rasio pendapatan dari sektor minyak dan gas kita "hanya" menyumbang sebesar 7,02% terhadap APBN kita.

Demikian juga dengan APBN 2016, pendapatan APBN 2016 sebesar Rp. 1.822,5 triliun, dengan sumber pendapatan dari sektor minyak dan gas sebesar Rp. 124,8 triliun, atau rasio terhadap APBN sebesar 6,8%, turun 0.22%.

Kalau kita bisa menasionalisasi dan atau menghentikan kontrak karya pertambangan di seluruh wilayah Indonesia, saya meyakini, pendapatan negara dari sektor minyak dan gas akan meningkat. Tidak nyanya mampu menyumbang 6 sampai 8 persen pertahun, akan tetapi bisa mencapai 40 sampai 50 persen pendapatan dalam APBN.

Dengan meningkatnya pendapatan di sektor minyak dan gas maka program program pemerintah khususnya dalam sektor pengentasan kemiskinan dan pemberdayaan masyarakat akan semakin leluasa. Dan yang tidak kalah penting, APBN kita tidak akan mengalami defisit anggaran

Kedua, hal yang tidak kalah penting yaitu dalam hal pendistribusian kekayaan dan hasil hasil kekayaan negara secara adil dan memenuhi rasa keadilan.

Dengan besarnya postur APBN dan digunakan langsung untuk kesejahteraan rakyat, tepat sasaran, tepat program dan pendistribusiannya, saya meyakini, gerak perekonomian dan daya beli masyarakat akan kembali bergairah, perputaran uang kembali terjadi di desa dan kota secara baik. Yang pada akhirnya akan mendorong perekonomian Indonesia tumbuh dengan baik.

Wallahu a'lam

Sumber data APBN: kemenkeu.go.id

Jumat, 01 April 2016

Hari Jadi Kota Sukabumi ke 102

Bismillah. Alhamdulillah hari ini kota sukabumi memasuki hari jadi nya yang ke 102, untuk tahun ini, tema yang di ambil adalah; Dengan Peringatan 102 Tahun Kota Sukabumi, Kita Tingkatkan Sinergitas Dalam Percepatan Pembangunan Untuk Mewujudkan Pemerintahan Yang Rahmatan Lil'Alamin.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia versi online/daring (dalam jaringan). Kata "Pembangunan" memiliki makna; cara, proses, perbuatan membangun. Tentu dalam konteks di atas, pembangunan dilakukan oleh pemerintahan kota Sukabumi maupun pemangku kepentingan beserta warga kota pada umumnya.

Hanya saja yang menjadi pertanyaan berikutnya ialah, pembangunan apa yang akan dilaksanakan, lebih tepatnya; fokus pada pembangunan apakah pemerintah kota pada tahun 2016 ini.

Setidaknya ada dua pembangunan yang urgent untuk dilakukan pemerintah kota, pertama pembangunan ekonomi (baca; penguatan ekonomi warga) dan kedua pembangunan manusia seutuhnya (baca; warga kota)

Masih menurut KBBI versi online, pembangunan ekonomi diartikan sebagai pembangunan dalam bidang ekonomi. Dalam konteks kehidupan kota, pembangunan ekonomi dapat diartikan terpenuhinya kebutuhan primer warga kota, sehingga tercipta kehidupan warga yang terpenuhi kebutuhan primernya, melalui tersedianya lapangan pekerjaan, terjangkaunya harga komoditas makanan pokok, dan pada akhirnya, angka pengangguran warga kota menurun.

Dalam konteks pembangunan ekonomi warga kota ini, penulis berharap dan sumbang saran, pemerintah kota dapat mengkampanyekan gerakan Satu Kelurahan Satu Baitul Maal wa Tamwil (BMT), dengan adanya BMT di setiap kelurahan, warga diharapakan dapat pro aktif memanfaatkan BMT sebagai lembaga keuangan untuk membantu keuangan keluarga melalui program program pemberdayaan BMT.

Saya yakin dan percaya, dengan dukungan pemerintah kota, maka pendirian satu BMT di setiap kelurahan dapat terwujud, serta keberadaan BMT dapat membantu warga dalam bidang ekonomi, dan yang paling utama adalah karena BMT merupakan lembaga keuangan yang insya Allah bebas riba.

Pembangunan berikutnya ialah pembangunan warga kota seutuhnya. Pembangunan manusia yang berahlak terpuji, memiliki kepribadian yang baik, budaya yang luhur, serta penganut agama yang taat. Ini adalah pekerjaan rumah terbesar pemerintah kota menurut saya. Pembangunan sarana dan prasarana penting, akan tetapi pembangunan manusia jauh lebih penting.

Tentu saja, cara yang paling efektif untuk membangun manusia yang utuh dan berkepribadian ialah melalui pendekatan agama. Banyak program kota yang dapat dilaksanakan seperti; mengkampanyekan wajib maghrib mengaji, pembatasan jam operasional warung internet (warnet) di jam malam, menghentikan kegiatan transaksi di pasar dan toko ritel pada saat memasuki waktu sholat, mengeluarkan surat edaran kepada seluruh PNS di lingkungan Pemerintah Kota untuk sholat berjamaah di awal waktu dan menghentikan segala aktifitas di saat sholat berjamaah, serta program program keagamaan lainnya yang insya Allah sebetulnya pemerintah kota saya yakini sudah punya program unggulan.

Akhir kata, semoga dengan hari jadi nya kota Sukabumi yang ke 102 di tahun ini, membawa kebaikan untuk warga, serta pembangunan dapat dirasakan secara nyata oleh warga dan tidak hanya sebatas slogan semata.

Untuk bapak walikota dan wakil walikota, selamat menjalankan amanah, membangun kota dengan hati, semoga Allah subhanahu wata'ala senantiasa melindungi dan menolong saya dan kita semua dalam menjalankan amanah yang di emban, untuk mewujudkan kota sukabumi yang reureug pageuh repeh rapih.

1 April 2016,

Rizal setiawan

Warga

Kamis, 18 Februari 2016

Untukmu desaku

Hari ini saya di telpon ibu, setelah ngobrol panjang lebar, nanya ini itu, dan di akhir pembicaraan, ibu membahas mengenai pemilihan kepala desa di kampung kami. Beliau bercerita, kalau pemilihan kepala desa tahun depan, setidaknya akan diikuti oleh 8 calon kepala desa, jumlah yang luar biasa menurut saya pribadi.

Jumlah calon kepala desa tahun depan, meningkat hampir lebih dari 50% di banding pemilihan kepala desa 5 tahun yang lalu. Meskipun belum menjadi keputusan dan ketetapan, jumlah 8 calon ini bisa dilihat secara positif, bahwa kesadaran individu warga desa untuk membangun desa semakin besar, terlepas dari motif pribadi yang kita tidak ketahui dari masing masing calon tersebut.

Semoga dengan banyaknya calon kepala desa tersebut, menjadi sebuah indikator akan keinginan masyarakat desa terhadap perbaikan, kemajuan dan kesejahteraan. Semoga pula, ini menjadi sebuah pembelajaran positif dalam berdemokrasi, dimana setiap warga bisa mencalonkan diri untuk menjadi pemimpin di desa, siap menang siap kalah, serta terhindar dari perilaku money politics yang sangat tidak beradab.

Diakhir obrolan, ibu berpesan, kelak kalau kamu memiliki kesempatan, pulang kampung, membangun kampung tercinta, mendaftarlah, ikut lah pemilihan kepala desa. Dengan tersenyum, saya menjawab; insya Allah. Insya Allah, apabila saya diberi kesempatan, saya ingin membangun desa. Saya ingin memberi kontribusi sebesar apa yang bisa saya berikan untuk desa. Terlepas nanti saya terpilih atau tidak menjadi kepala desa, saya berharap saya bisa memberikan manfaat untuk warga desa.

Menjadi kepala desa atau tidak, insya Allah saya ingin berkontribusi untuk warga desa. Sebab, bukankah menjadi kepala desa adalah sebagai "alat" perjuangan bukan tujuan perjuangan. Perjuangan menggapai manfaat untuk orang banyak. Insya Allah di tulisan berikutnya, saya akan menulis mengenai cita cita dan harapan saya untuk desa, serta program program untuk kesejahteraan desa yang akan saya laksanakan.

Insya Allah. Ibu, insya Allah anak mu ini ingin sekali berkontribusi untuk desa, menjadi inspirasi untuk orang banyak, bermanfaat untuk orang banyak. Doakan selalu anak mu ini bu.

17 februari 2016

Selasa, 29 Desember 2015

Pernikahan

Pernikahan adalah universitas kehidupan Pernikahan tidak hanya sebagai simbolisasi penyatuan dua insan melalui ikatan suci, akan tetapi pernikahan juga mengajarkan banyak hal tentang kehidupan yang fana ini.

Bagi suami, satu detik setelah ijab dan kabul terucap, di akhirat kelak ia jg akan dimintai pertanggungjawaban sejauh mana ia telah membimbing istri dan anak anak menjadi insan kamil, insan yang bertauhid, insan insan yang beriman dan berislam secara kaffah, menyatukan visi dan misi menggapai ridho Ilahi dunia terlebih di akhirat kelak.

Bagi istri, satu detik setelah ijab dan kabul terucap, kelak ia akan ditanya sejauh mana ketaatannya terhadap suami. Taat dalam kebaikan bukan taat dalam kemaksiatan. Begitu berharganya taat terhadap suami, Allah menjanjikan surga yang luasnya seluas langitdan bumi. Apabila durhaka terhadap suami, jangankan memasuki surga, mencium wangi nya surga pun takkan pernah ia dapat, na'udzubillah.

Duhai istriku, maafkan bila suami mu ini masih jauh dari kata sempurna, dalam membimbingmu, rasa-rasanya masih jauh untuk mendapatkan predikat imam yang sempurna untukmu. Akan tetapi, tak perlu kuatir, suamimu ini sudah bertekad untuk menjadi imam idaman untukmu, dari dulu semenjak akad nikah diucapkan.

Duhai istriku sayang, suami mu ini berharap, semoga engkau ridho menjadi seorang istri dari seorang insan biasa ini. Semoga engkau ridho terhadap nafhah lahir dan bathin selama ini. Dan semoga engkau ridho dan ikhlas menjadi ibu bagi anak anak kita kelak. Ridho dan ikhlas hingga kelak bisa menggapai jannah bersama-sama, bersama-sama memasuki pintu surga dengan orang-orang yang kita sayang, aamiin

Kamis, 15 Oktober 2015

Hijrah dalam konteks kekinian

Tahun baru hijriah yang setiap tahun di peringati, merupakan satu momen yang bagus untuk kita semua. Momen mengingat kembali bagaimana perjalanan rosulullah saw hijrah dari kota mekah ke yatsrib, suatu perjalanan yang sangat luar biasa yang di tempuh dengan perjalanan darat selama beberapa hari.
Tidak hanya itu, momen itu juga menjadi momen dimana pada saat itu rosulullah saw membangun yatsrib yang kelak bernama madinah, membangun peradaban islam yang luar biasa, menanamkan nilai nilai ketauhidan, menanamkan nilai nilai islam yang agung, serta menyebarkan islam yang rahmatan lil alamiin dari madinah ke penjuru dunia melalui surat dan utusan yang dikirim oleh rosulullah saw.

Dalam konteks kekinian, hijrah dapat diaplikasikan dalam kehidupan kita sehari-hari. Dalam lingkungan keluarga hijrah bisa bermakna beralihnya kebiasaan jelek menjadi kebiasaan yang baik. Bila sebelumnya suami tidak biasa romantis, maka setelah hijrah, suami akan tambah romantis. Bila sebelumnya istri idak pernah izin kepada suami untuk pergi ke luar rumah, maka setelah momen hijriah ini, sang istri akan meminta izin kepada suaminya apabila ia akan pergi keluar rumah.

Dalam lingkungan pekerjaan, bila sebelumnya datang ke kantor atau tempat kerja selalu datang terlambat, maka setelah hijrah bisa dijadikan momentum untuk dapat berangkat kerja tepat waktu. Lebih semangat dari sebelumnya.

Dalam hal bermuamalah apabila saat ini kita masih senang menggunakan bank konvensional sebagai mitra kita, maka dengan hijrah dapat diartikan, mulai sekarang kita pindah dan bermitra dengan bank syariah.

Apabila saat ini kita masih senang menggunakan jasa pegadaian konvensional, maka dengan momen hijriah, mulai saat ini kita akan sangat nyaman ketika berhubungan dengan pegadaian syariah.

Dalam konteks berbangsa dan bernegara, seyogyanya hijrah menjadikan kita lebih selektif dalam memilih pemimpin, pemimpin yang amanah, muslim dan takut kepada penciptanya, Allah swt.

Demikianlah, seyogyanya semangat hijriah seharusnya menjadi momentum setiap insan beriman untuk dapat berubah menjadi lebih baik. Tidak mudah memang mengubah sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan, namun tidak ada yang mustahil selama ada kemauan dalam diri kita.

akhirnya, selamat berhijrah di tahun 1437 hijriah.

Senin, 12 Oktober 2015

Ayo menulis !!

Mungkin menulis bagi kebanyakan dari kita termasuk juga saya sendiri, adalah hal yang membosankan, bingung dan tidak tahu harus memulai dari mana. Tergantung mood, kalau mood sedng bagus, bisa menulis sampai berlembt lembar, kalau mood tidak bagus, mengetik keyboord laptop atau tab pun jadi terasa berat. Berat rasanya.

Padahal, kalau kita cermati sesungguhnya para penulis terkenal yang ada di tanah air, entah itu penulis cerpen atau buku karya ilmiah, dan juga para penulis yang mengisi di kolom kolom harian umum cetak maupun online, kebanyakan dari mereka pasti menulis dengan cara dan gaya penulisan masing masing, dan yang tak kalah penting adalah mereka istiqomah dalam menulis. Itulah salah satu hal yang membedakan kebanyakan kita penulis pemula dengan mereka yang sudah malang melintang di dunia tulis menulis.
Ada beberapa hal yang patut di coba untuk para penulis pemula termasuk juga saya didalamnya, bagaimana agar bisa mem boost diri kita rajin menulis.

Pertama, jangan tergantung dengan yang namanya mood. Mood bisa berubah 180 derajat dalam hitungan detik. Di saat mood sedang bagus, menulislah sebanyak banyak nya. Dan apabila mood sedang tidak bersahabat, perbanyaklah berdzikir supaya hati menjadi tenang alias relax (ini betul dan saya serius), setelah hati dan pikiran sudah tenang, mulailah kembali menulis.

Kedua, untuk tahap pertama menulis lh di bidang yang di sukai, misal keseharian kita, hobi kita, opini kita tentang berita yang sedang hangat di media nasional, ekonomi, politik atau apapun itu, yang penting jangan menulis tentang gosip rumah tangga tetangga sebelah atau aib seseorang, bahaya, dosa (serius :) )

Ketiga, mulai lah dengan menulis dngan 4 atau 5 paragraf. Baik itu dengan jenis paragraf induktif ataupun paragraf deduktif atau bahkan campuran antara keduanya. Mengenai definisi jenis jenis paragraf, teman teman bisa goggling aja ya..

Keempat, buat target mingguan. Misal saya ingin dalam seminggu minimal menulis sebanyak dua tulisan. Maka, capailah target itu dengan istiqomah dan kesabaran. Setelah seminggu dapat menghasilkan dua tulisan, maka target mingguan bisa kita revisi menjadi empat tulisan seminggu. Istiqomah dan sabar. Demikian seterusnya.

Kelima, hal yang tak kalah penting adalah, miliki lah seorang teman yang akan menjadi seorang redaktur yang bertugas memberikan saran dan masukan terhadap tulisan kita, baik yang sudah di posting maupun belum di posting. Dalam hal ini, istri saya dengan sukarela menjadi pengunjung setia blog saya, memberikan masukan dan juga saran. Terimakasih ya sayang.

Ke enam, perbanyak membaca buku, artikel atau opini, cetak maupun online. Dengan membaca, seseorang akan memiliki banyak wawasan, memiliki pemahaman yang komprehensif terhadap suatu masalah, dapat mengetahui bagaimana gaya penulisan orang lain dan banyak hal positif lainnya dari membaca.

Ketujuh, menulis lah mulai saat ini. Setelah teman teman membaca tulisan saya ini. Maka, segeralah ambil laptop atau tabnya, mulailah mengetik. Kalau tak ada laptop atau tab, ambillah handphone mulai lah mengetik di file draft, kalau tak ada juga handphone, ambil kertas dan mulailah menulis. Kalau ga ada juga alat tulis di rumah, pinjam ke keponakan atau sepupu yang sekolah, insya Allah mereka punya alat tulis hehe

Terakhir, selamat menulis dan pastikan niat kita menulis hanya karena Allah subhanahu wata'ala. saya jadi teringat pesan dari istri, tetaplah menulis, karena dengan menulis kita juga bisa berdakwah melalui tulisan kita. Semoga.

Ayahnya aufar

Demi masa

Bismillah.
Demi masa (1) sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian (2) kecuali orang-orang yang beriman dan beramal sholeh dan nasehat menasehati supaya menta'ati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran (3). (Quran surat al-ashr).

Dalam tafsir al usyr al akhir di katakan bahwa surat ini menerangkan bahwa manusia yang tidak dapat menggunakan masanya dengan sebaik-baiknya termasuk golongan yang merugi. masya Allah, Maha benar Allah dengan segala firman-Nya.

Setiap tanggal 12 di bulan oktober, saya selalu diingatkan oleh notifikasi facebook serta notifikasi ucapan dari istri tercinta, keluarga serta teman-teman. Hari dimana 29 tahun yang lalu saya lahir ke dunia ini.

Perjalanan 29 tahun merupakan perjalanan yang penuh warna. Banyak episode kehidupan yang telah dilalui. Ada saatnya berada di ketinggian (bukan gunung maksudnya ya he), ada pula saat-saat dimana keterpurukan begitu dekat, bagai teman dalam keseharian. Ada saat saat dimana begitu mudah akses dari satu titik ke titik lain. Ada saat saat dimana kaki ini menjadi andalan, berjalan kaki menjadi keseharian dan suatu keharusan demi mengirit ongkos sebesar 2000 rupiah. Dari situ saya menghargai betapa berharganya 2000 rupiah itu.
Ada saat saat dimana keberlimpahan pernah saya jumpai, dan ada episode dimana makan ayam bakar di belokan sigodeg, nanggeleng begitu berharga, dan yg takkan pernah sy lupa adalah nikmatnya makan sebungkus mi instant untuk makan kami berdua. Dari situ saya menghargai dan menyadari betapa berharganya sebungkus mie instant. Ada saat-saat tidur di hotel berbintang, dan ada pula saat-saat dimana mushola adalah tempat berlindung saya dari hujan dan gelapnya malam, mushola samping marbella kemang adalah saksi bisu episode kehidupan itu..

Yang pertama yang wajib saya syukuri adalah, memiliki istri yang mensupport saya sedemikian hebat, melewati bagian demi bagian perjalanan dalam keterpurukan ini, yang telah begitu sabar menguatkan saya, menguatkan kami melewati itu semua, terimakasih istriku sayang. Saya masih sekuat ini sampai saat ini, karena doa dan support nya juga.

Juga bersyukur memiliki keluarga yg telah begitu support dan menguatkan kami berdua.

Kembali ke ayat di awal tulisan tadi, semoga saya dan kita semua termasuk kedalam golongan orang yang beriman dan beramal sholeh. Dua kata kunci dalam ayat tersebut yakni; iman dan amal sholeh, keduanya di sandingkan dalam ayat yang sama. Setelah beriman diikuti dengan beramal sholeh. Amal sholeh berbarengan dengan keimanan. Demikian firman-Nya.

Sebagai manusia, kita tidak tahu apakah amal kita lebih banyak melakukan kebaikan atau malah lebih banyak keburukan telah kita lakukan. Pun demikian dengan saya, telah lebih dari seperempat abad berlalu, amal mana yg paling banyak dilakukan? Wallahu alam. Merujuk kepada ayat di atas, sebagai muslim seyogyanyalah amal sholeh dan keimanan menjadi keseharian kita, menjadi teman dalam menjalani hidup yang fana ini untuk menuju ke kehidupan yang kekal abadi di akhirat kelak. Itulah job desk harian kita sampai hembusan nafas terakhir.

Di akhir tulisan yng singkat dan sederhana ini izin kan saya menulis beberapa resolusi untuk tahun tahun yang kan datang, yang menjadi target, harapan dan keinginan saya.

Sebagai seorang suami, saya ingin menjadi suami yang melindungi, memahami dan menyayangi sepenuh hati. Menafkahi ia hanya dengan yang halal. Menjadi sosok suami yang menyenangkan untuknya, pelipur lara di saat ia sedih. Penyemangat di saat rasa malas mulai menyelimutinya. Pengingat yang baik di satbi khilaf. Dan sosok suami yang menuntunnya ke surga, aamiin ya robbal alamiin

Sebagai seorang ayah, saya berharap dan berdoa bisa menjadi sosok teladan untuknya. Yang mengenalkan ia akan kehidupan. Membuka wawasan untuknya tentang dunia ini. Yang menafkahinya dengn harta yang halal. Sosok ayah yang menjadi pendengar yang baik untuknya. Menjadi kompas untuknya, sehingga ia tak kehilangan arah. Dan, mengenalkannya kepada sang pencipta, Allah swt. Dan kelak, saya di akhirat bersama sama dengannya memasuki pintu surga Nya dengan penuh rasa syukur.

Sebagai seorang anak, mungkin saya masih jauh dari kriteria anak yang berbakti. Belum bisa memberikan yang terbaik untuk mereka. Belum bisa membahagiakan mereka. Pun saya belum bisa memberi apa yang mereka mungkin inginkan, yang sebetulnya terbersit dalam hati dan pikiran mereka. Saat ini saya hanya bisa berdoa untuk kebaikan mereka; orang tua dan mertua, semoga di usianya yang sekarang, Allah swt senantiasa memberikan kepada mereka kebahagiaan di dunia dan di akhirat kelak. Mengampuni segala dosa dan kekhilafannya. Menyayangi mereka sebagaimana mereka menyayangi kami semua anak anaknya dari kecil sampai dengan saat ini.

Sebagai seorang muslim tentu hadits rosulullah sallallahu alaihi wasallam tentang kewajiban mencari ilmu, tentu akan terus menjadi motivasi bagi saya. Bukankan kewajiban mencari ilmu tak pandang usia? Mudah mudahan Allah subhanahu wata'ala membuka jalan dan kesempatan kepada saya untuk dapat  melanjutkan studi di bidang yang saya minati; keuangan islam, aamiin ya robbal alamiin.

Dan mungkin ada banyak doa yang tak bisa tertulis semua di sini, harapan dan cita cita, yang menjadi doa ketika sujud dalam sholat. Semoga Allah subhanahu wata'ala  mengabulkan doa saya dan kita semua. Aamiin.

Ayahnya aufar