Senin, 13 Juni 2016

Sukses yang Sesungguhnya

Terimakasih cinta, telah menyemangati sampai sejauh ini. Langkah ini semakin kuat. Langkah ini semakin menemukan visinya. Dan langkah ini adalah bagian dari langkah langkah kecil kita bersama.

Goresan tinta telah mengering. Ketikan keyboard telah tersimpan difoldernya dengan baik. Dan kini ikhtiar dan doa senantiasa dipanjatkan pada Pemilik Semesta, Allah SWT. Dukungan mu adalah penyemangat perjuangan ini. Support mu adalah oase di di tengah gurun kehidupan ini.

 "y syg saling support saling ingatkan ya... jgn terlena smuanya .. kwatir nanti kita g bs keluar dr zona nyaman ...k jongjonan..malah menunda kesuksesan... lebih baik mnunda kesenangan untuk ksuksesan kita". Ini adalah chat yang engkau kirim via bbm di tgl 12 Juni 2016 pkl 00.38.

Semoga visi kita akan tetap sama. Seperti layaknya pilot dan kopilot dalam sebuah pesawat, menuju sebuah titik koordinat yang haruslah sama, tak bisa berbeda tujuan. Titik koordinat itu ialah sukses dunia dan akhirat. Tidak hanya aku atau kamu, tapi kita dan seluruh keluarga kita.

Sebagai suami serta ayah dari anak-anak kita, tujuan kita ialah kesuksesan dunia dan akhirat. Definisi sukses ialah ketika kita bisa berkumpul kembali di surgaNya kelak. Bersama-sama menghirup aroma surga. Bersama sama tinggal di surga yang luasnya seluas langit dan bumi. Kekal nan abadi.

Sebagai suami dan ayah dari anak keturunan kita, cukuplah firman Allah SWT ini jadi peringatan, motivasi serta visi hidup yang sesungguhnya. Firman Allah yang dimaksud ialah Quran Surat At Tahrim ayat 6. Yang artinya : Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa ang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS. At Tahrim 66:6)

 
Sebagian Ulama berkata : kalau dikatakan Qu anfusakum : mencakup arti anak-anak, karena anak adalah bagian dari mereka. Maka hendaklah orang tua mengajarkan tentang halal dan haram dan menjauhkannya dari kemaksiatan dan dosa, juga mengajarkan hukum-hukum lain selain hal tersebut.

Semoga kita diberi kekuatan untuk saling mengingatkan dan menyemangati satu sama lain, mendidik anak anak kita dengan pendidikan akhak yang baik. Dan mengantarkannya menjadi pribadi muslim yang baik. Pemimpin bagi orang-orang yang bertaqwa. Aamiin.

Ditulis tanggal 13 Juni 2016, 8 Ramadan 1437 H

Senin, 06 Juni 2016

Tiupan yang dihindari

Tadi malam saya melihat ada sebuah keluarga kecil, terdiri dari ayah, ibu dan anaknya yang masih sekitar 3 tahunan. Ada satu hal yang membuat saya agak sedikit kagum, si ibu rupanya sangat protektif terhadap si anak. Semua yang ada dihadapan si anak, dibersihkan dengan tisu basah anti bakteri. Mulai dari piring tempat makan, pisau dan garpu, tak ketinggalan pensil warna si anak juga tak luput dari pembersihan dengan menggunakan tisu basah tersebut.

Selang beberapa saat, giliran si ayah yang kelihatan repot membersihkankedua tangan mungil si anak dengan tisu basahnya. Dalam hati saya berpikir, betapa luar biasanya mereka memperhatikan kebersihan anak dan lingkungan sekitarnya, suatu contoh sikap yang bisa jadi bagi sebagian kita terlalu berlebihan. Tapi menurut saya, ga ada salahnya klo mereka begitu perhatian terhadap si kecil, toh memang dilingkungan kita begitu banyak bakteri dan juga virus yang berlalu lalang. Mencegah lebih baik dari pada mengobati bukan?

Selang beberapa lama, kekaguman saya berubah 180 derajat, tatkala si ibu, dengan menggunakan tangan kanannya, mengambil potongan pizza yang ada dihadapannya, kemudian ia meniup nya, kemudian ia memberikan makanan yang telah ia tiup itu ke si kecil.

Saya kaget dan sekaligus seran, dari pertama duduk hingga makanan dihidangkan, saya melihat betapa mereka berdua sangat protektif pada si kecil, akan tetapi setelah tau si ibu dengan entengnya meniup makanan kemudian di suapin ke si kecil, seketika saya langsung sedih dan prihatin.

Apaka mereka memang tidak tau atau bagaimana.

Padahal kegiatan meniup makananan adalah tidak diperkenankan, baik secara agama maupun sains. Dalam islam, dapat kita ketahui bahwa Dalam Hadits Ibnu Abbas menuturkan “Bahwasanya Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam melarang bernafas pada bejana minuman atau meniupnya”. (HR. At Turmudzi dan dishahihkan oleh Al-Albani).

Dalam sains kita ketahui bahwa ternyata dengan meniup makanan, sebetulnya kita telah mentransfer bakteri H. Pylori. Bakteri ini ternyata yang menyebabkan gangguan lambung mulai dari luka kecil hingga membesar menjadi tukak lambung. Yang mengerikan lagi, bakteri ini dapat dengan mudah menyebar melalui pernafasan. Nah kalo misalnya si ibu ternyata punya bakteri ini kemudian di transfer ke si anak melalui media makanan yang di tiup tadi, kemudian si anak sakit, jangan salahkan si anak yang bermain dengan benda benda di sekitarnya, atau bermain dan memasukan sesuatu ke mulutnya, ternyata masalahnya ada ditiupan makananan yang diberikan si ibu tadi.

Hal lainnya adalah penyebaran mikroorganisme. Pernafasan adalah salah satu jalan keluar bagi mikroorganisme, virus dan bakteri untuk menyebar dan menularkan pada manusia lainnya. Sebut saja virus TBC, virus berbahaya yang terkadang tak disadari oleh seseorang yang mengidapnya yang akan dengan mudah menular melalaui droplet dan pernafasan yang intens. Sedangkan makanan atau minuman adalah sesuatu yang jelas akan masuk kedalam tubuh, hmmmmmm..

Satu hal lagi, dengan meniup makanan, si ibu tadi juga telah mengkontaminasi makanan yang akan diberikan ke si kecil. Istilahnya mengkontaminasi dengan kotoran. Kotoran disini diartikan kotoran yang berada di mulut. Padahal mulut adalah tempat kita menghaluskan semua makanan yang juga dicampur dengan berbagai enzim untuk membantu menghancurkan makanan. Makanan yang hancur tak seluruhnya akan masuk kedalam lambung, pastinya ada sisa makanan yang terselip disela-sela gigi atau menempel di dinding-dinding mulut.kotoran ini yang akan mungkin terbawa ketika kita meniup makanan.

Dari sini saya berpendapat, protektif kepada anak sah sah saja dilakukan, terutama menghindarkan si kecil dari benda benda yang dinilai kotor, tapi juga harus diimbangi dengan pemahaman orang tua, bahwa satu hal yang menurut kita sepele ternyata bisa berakibat tidak baik terhadap si kecil, contohnya meniup makanan yang akan diberikan pada si kecil. Sebuah tindakan yang sudah lazim dilakukan diantara kebanyakan ibu pada anaknya. Yuk ah mulai sekarang biasakan tidak meniup makanan, baik itu untuk diri sendiri maupun si kecil.


#catatanrizal
#catatanpagi

Sumber bacaan:

http://m.log.viva.co.id/frame/read/aHR0cDovL3d3dy5rdW1wdWxhbm1pc3RlcmkuY29tLzIwMTUvMDIvamFuZ2FuLXRpdXAtbWFrYW5hbi1wYW5hcy1pbmkuaHRtbA==

http://ridwanaz.com/kesehatan/bahaya-meniup-makanan-minuman-panas-sunah-rosul/

https://komunitas.bukalapak.com/s/veu0tp/bahaya_meniup_makanan_minuman_panas_berikut_penjelasan_ilmiaahnya

Selasa, 31 Mei 2016

Ilmu Padi dan Kesombongan Diri

Dari sejak kecil, kita sering mendengar pepatah; Seperti ilmu padi makin berisi makin merunduk. Dikutip dari kamusperibahasa.com, pepatah tersebut berarti semakin tinggi ilmunya semakin rendah hatinya, dan juga dapat diartikan Kalau sudah pandai jangan sombong, selalulah rendah hati.

Merunduk dapat diartikan tidak sombong dihadapan manusia, terlebih dihadapan sang Pencipta, Allah SWT. Merunduk dapat diartikan menghambakan diri dihadapan ilahi, menggunakan knowledge yang dimiliki dengan bijak serta berorientasi jangka panjang. Akhirat.

Merunduk tidak diartikan diam atau pasif. Merunduk tidak diartikan sebagai diamnya orang yang berilmu dimasyarakat, tanpa bisa berbuat untuk kebaikan masyarakat sekitar. Diamnya orang yang berilmu dan tidak mengamalkan ilmu bisa dikategorikan musibah bagi diri dan lingkungan. Apa yang akan kita jawab tatkala Allah SWT kelak akan bertanya tentang ilmu yang tidak kita amalkan, tentang ilmu yang tidak membawa kemanfaatan untuk diri dan lingkungan sekitar.


Bukan malah sebaliknya, seperti pepatah Tong kosong nyaring bunyinya. Masih menurut kamusperibahasa.com, pepatah tersebut berarti orang yang bodoh atau tidak berilmu selalu banyak bicara. Benarlah apa yang telah Rosulullah sollallahu alaihiwasallam sabdakan; "Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, maka hendaklah ia berkata baik atau diam. (Hadits Muttafaq alaih).

Adapun penjelasan dari hadits diatas menurut Imam Nawawi - rahimahullâh didalam Al-Minhaaj "Adapun sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasalam,  “maka hendaklah ia berkata baik atau diam”. Artinya ketika seseorang ingin berbicara hendaklah dilihat apakah ucapannya mengandung kebaikan dan kebenaran yang membuatnya mendapatkan ganjaran pahala wajib atau sunnah, maka berbicaralah. Tapi jika tidak, tahanlah diri untuk tidak berbicara".

Semoga kita terhindar dari perilaku banyak bicara tetapi "Kosong". Kosong dari penghayatan makna berbagi ilmu, kosong dari makna dan kemanfaatan. Kosong dari penghayatan makna budi pekerti atau kelakuan (baca: Akhlak).


Mungkin untaian kata-kata kita ada "isi" tetapi minim etika. Mungkin ada "isi" nya, tetapi terselip "kesombongan dan keangkuhan" yang rupa rupanya telah menguasai diri, baik disadari maupun tidak. Padahal Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasalam mewanti-wanti umatnya, beliau bersabda :“Tidak akan masuk surga orang yang didalam hatinya terdapat sifat sombong walaupun sebesar biji zarah” (HR. Muslim 2/89 dan At Tirmidzi 3/243).

Semoga kita termasuk orang orang yang Allah karuniakan ilmu yang bermanfaaat setiap harinya, dan dipergunakan untuk kemaslahatan diri dan lingkungan. Dan juga semaksimal mungkin melatih diri untuk dapat menjauhi sifat sombong, baik itu dalam ucapan maupun perbuatan. Wallahu A'lam.

Senin, 16 Mei 2016

KJKS Alumni SMA Muhammadiyah Sukabumi

Langkah besar memang akan selalu dimulai dengan langkah kecil kita. Tanpa adanya langkah pertama, mustahil langkah berkkutnya akan terwujud.

Kita sadar dan kita memahami bahwa langkah-langkah kecil ini pasti akan menghadapi rintangan serta ujian, dan memang kesabaran dan saling menyemangati adalah obat bagi kita supaya langkah kecil ini akan senantiasa berada di jalurnya.

Tujuan kita bukanlah sebatas meningkatnya asset lembaga, banyaknya anggota apalagi penghargaan dan pengakuan. Kita yakini itu semua "hanyalah" dampak dari kerja keras, kerja cerdas, dan kerja tuntas kita semua.

Tujuan kuta hanyalah melakukan yang terbaik, bersungguh-sungguh, itqon. Melakukan yang terbaik dari apa yang bisa kita berikan dalam langkah-langkah kecil ini.

Semoga apa yang kita tanam, tidak hanya dapat kita panen didunia ini, akan tetapi sampai akhirat kelak, sebagai ladang pahala yang tidak pernah berhenti.

Bismillah, semoga pembentukan kepengurusan KJKS Alumni Muhammadiyah Sukabumi ini dapat segera kita laksanakan. Semoga dapat memberi dampak positif untuk alumni dan keluarga, serta masyarakat. Aamiin.

Minggu, 08 Mei 2016

Ayo Belajar Ekonomi Syariah



Untuk pertama kalinya, saya mendengar istilah ekonomi syariah sekitar tahun 2006 silam, kurang lebih hampir 10 tahun yang lalu, pada saat saya mengikuti sebuah presentasi yang di presentasikan oleh salah satu pakar ekonomi syariah yaitu Muhammad Syafii Antonio, M.Ec Ph.D.


Beliau menjelaskan secara ringan dan jelas, apa itu ekonomi islam, bagaimana perbandingannya dengan ekonomi konvensional, serta apa manfaat yang bisa diambil dari mempelajari ekonomi syariah, baik untuk diri sendiri maupun untuk orang lain.


Dari presentasi beliau itu saya tergugah untuk lebih memperdalam apa sebenarnya ekonomi islam itu, saya baca dari beberapa sumber, dan secara garis besar dapat saya simpulkan bahwa pengertian dari  ekonomi syariah itu sendiri adalah sebuah sistem ekonomi yang bersumber dari wahyu yang diabadikan dalam alquran dan disebutkan didalam hadist nabi serta sumber interpretasi dari wahyu yang disebut dengan ijtihad.


Ekonomi syariah seperti halnya disiplin ilmu yang lain, seperti ilmu politik, ekonomi dan kebudayaan memiliki peranan yang sangat penting. Ada beberapa manfaat mempelajari ekonomi syariah saat ini;

Pertama, dengan mempelajari ekonomi syariah, kita dapat mengetahui dengan baik, apa yang Allah dan rosulullah sollollahu alaihi wasallam boleh dan larang didalam bermuamalah. Dalam ekonomi syariah, ada beberapa jenis transaksi yang tidak dibolehkan antara lain yaitu riba, gharar, maysir, dan tadlis.


Kedua, dengan mempelajari ekonomi syariah, bagi seorang muslim berarti ia telah berusaha untuk menjadi seorang muslim yang menerapkan dan mengamalkan ekonomi syariah dalam kehidupannya sehari-hari secara kaaffah atau menyeluruh. Islam tidak lagi diartikan dengan sholat, zakat dan haji saja, akan tetapi termasuk juga dalam aspek ekonomi pun berusaha untuk dilakukan melalui ekonomi syariah.


Apabila ingin menabung maka ia akan memilih tabungan di perbankan syariah, apabila ia membutuhkan untuk akad gadai maka ia akan menggunakan pegadaian syariah, apabila ia ingin berinvestasi, maka ia akan memilih untuk berinvestasi di perusahaan sekuritas yang memiliki produk reksadana syariah misalnya, dan apabila ia membutuhkan produk asuransi untuknya dan keluarga maka ia akan memilih perusahaan asuransi syariah. Karena dengan menggunakan produk dari lembaga keuangan syariah, ia meyakini bahwa dengan mengamalkan dan berinteraksi dengan lembaga keuangan syariah dan menghindari segala bentuk riba, gharar, maysir, dan tadlis, maka akan bernilai ibadah.


Ketiga, dengan mempelajari ekonomi syariah maka kita dapat mengetahui akad-akad didalam ekonomi syariah yang dibolehkan dan bebas riba yang dapat dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari.


Sebagai contoh, apabila ada seorang teman yang membutuhkan sebuah smartphone, dan ia tidak memiliki cukup uang. Dan disaat yang sama kita memiliki dana yang tidak terpakai, maka kita dapat menggunakan akad murabahah.


Murabahah adalah akad jual beli barang dengan menyatakan harga perolehan dan keuntungan (margin) yang disepakati oleh penjual dan pembeli. Maka setelah mengetahui kebutuhan teman tersebut, lengkap dengan spesifikasinya, maka saya akan membelikan smartphone, tersebut. Setelah smartphone tersebut menjadi milik saya, maka saya menjual smartphone tersebut kepadanya dengan harga perolehan di tambah keuntungan yang disepakati, dan ia membayarnya dengan cara diangsur.


Ada banyak akad dalam ekonomi syariah yang sangat aplikatif dan mudah, dan yang terpenting ialah akad-akad transaksi di dalam ekonomi syariah memenuhi rasa keadilan kedua belah pihak.
Saat ini kita hidup dalam dunia digital, dalam dunia yang terhubung oleh jaringan internet, sekat-sekat jarak seolah tidak lagi berarti. Semua serba online. Ponsel pintar yang kita miliki saat ini dapat membantu semua hal. Dari mulai memesan makanan kini bisa dilakukan dengan mudah via online. Tersesat di jalan? Itu sekarang menjadi cerita lama, di ponsel pintar kita ini, dengan bantuan aplikasi penunjuk arah, dengan mudah kita bisa sampai ke tujuan tanpa takut tersesat.


Dan kini belajar pun saat ini bisa dilakukan secara online. Termasuk belajar ekonomi syariah secara online. Belajar ekonomi syariah tidak harus selalu dilakukan didalam kelas, hadir di kelas, mengisi daftar kehadiran, mendengarkan dosen sharing knowledge, mengikuti ujian, hingga wisuda. Kini, dengan kemudahan tekhnologi, belajar ekonomi syariah bisa dilakukan secara online.
Hal ini pastinya memudahkan kita yang super sibuk dengan bermacam aktivitas, namun disaat yang sama kita ingin belajar ekonomi syariah, solusinya adalah belajar ekonomi syariah secara daring (online).


Alhamdulillah, saat ini telah hadir e-Learning Belajar Ekonomi Syariah dari Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) yakni komunitas ekonomi syariah terbesar dan paling berpengaruh di Indonesia. Dengan e-Learning ekonomi syariah dari MES, menjadikan belajar ekonomi syariah secara kekinian, plus tentunya dapat sertifikat, yang juga kekinian, yaitu sertifikat digital. Yang yang juga tidak kalah penting ialah kita dapat menggunakan sertifikat yang di peroleh untuk menyambut tren global, baik didalam negeri maupun luar negeri. 


Manfaat lain belajar ekonomi syariah secara online atau e-Learning Belajar Ekonomi Syariah membantu kita untuk dapat memahami seluk beluk ekonomi syariah dengan cara menyenangkan dan mudah. Dengan e-Learning Belajar Ekonomi Syariah memiliki beberapa kelebihan yaitu fleksible. Selama terkoneksi dengan internet, akses materi dapat kita akses dalam 24 jam sehari dan 7 hari seminggu dari manapun kita berada.
Kelebihan yang kedua, Personal. Kita dapat mengatur jadwal pembelajaran dan kecepatan belajar sendiri. Kelas e-Learning memungkingkan kita untuk mengulang kembali pembelajaran tanpa batas sehingga dapat meningkatkan pemahaman.


Dan yang terakhir, Reduce Time. Kelas e-Learning mengurangi waktu yang kita habiskan untuk belajar di kelas konvensional. Kelas e-Learning Ekonomi Syariah dapat diakses kapan pun dan di manapun. Pada umumnya satu unit modul berdurasi 10-15 menit dan idealnya diselesaikan dalam waktu satu minggu namun waktu pembelajaran tetap fleksibel. Tiap modul terdiri dari 9-12 halaman pembelajaran dan pertanyaan pre-test dan post-test.


Semoga dengan adanya e-Learning Belajar Ekonomi Syariah dari Masyarakat Ekonomi Syariah dapat memfasilitasi dan mempermudah masyarakat luas untuk dapat lebih mengetahui dan memahami seperti apa ekonomi syariah itu dan aplikasinya dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat berbangsa dan bernegara. Ayo belajar Ekonomi Syariah :)




Sumber:
INCEIF 2006, Applied Shariah in Financial Transactions, Topic 5 application of murabahah.


Selasa, 26 April 2016

Keadilan Sosial dan Pemerataan Ekonomi

Indonesia yang kita lahir didalamnya, memiliki kekayaan alam yang luar biasa. Tanah, gunung air dan lautan menyimpan begitu banyak ragam kekayaan. Tanah yang kita injak begitu subur, hutan yang menyimpan beragam flora dan fauna, lautan yg tidak hanya menyimpan cadangan ikan tapi juga gas alam di dalamnya. Rasa-rasanya tak perlu saya tulis satu persatu kekayaan alam indonesia ini. Banyak. Banyak sekali.

Hanya saja, kekayaan alam ini seakan menjadi petaka. Betapa tidak, dari sejak zaman penjajahan Belanda hingga Jepang datang, motif mereka menguasai negeri ini tidak lain ialah motif menguasai kekayaan alamnya.

Dalam konteks kekinian, ketika Indonesia sudah menyatakan kemerdekaanya, bentuk penjajahan itu kini tidak lagi berbentuk model penjajahan kolonialisme, akan tetapi berubah menjadi penjajahan model baru dengan mengatasnamakan korporasi internasional.

Padahal pasal 33 UUD 1945 mengatakan secara jelas bahwa: “Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat". Pasal ini seyogyanya menjadi tujuan kita dalam berbangsa dan bernegara, terutama dalam aspek keadilan sosial dan pemerataan ekonomi. Hanya saja rasa rasanya masih jauh dari harapan.

Pemerintahan sudah silih berganti, entah sudah berapa banyak kabinet dibentuk, hanya saja, sayangnya amanah UUD 1945 tersebut masih belum sepenuhnya dapat dilaksanakan dengan baik. Rasa rasanya seperti sulit sekali menerapkan Pasal 33 UUD 1945 tersebut, padahal pada pasal tersebut jelas sekali, bahwa Indonesia memiliki kedaulatan yang penuh terhadap kekayaan sumber daya alamnya.

Dari permasalahan diatas, setidaknya terdapat solusi yang bisa dilakukan, yaitu dengan menerapkan konsep Keadilan Sosial. Keadilan sosial seperti yang termaktub dalam sila ke lima Pancasila, yang berbunyi "Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia".

Tentu saja, keadilan yang seperti apakah yang diinginkan para pendiri bangsa hingga merumuskan sila ke lima pancasila ini. Sosial yang dimaksudkan disini bukanlah berarti Indonesia memilih faham Sosialisme, tetapi sosial disini berarti rakyat banyak. Keadilan Sosial disini berarti suatu hirarki, bahwa keadilan untuk rakyat banyak adalah lebih penting dibandingkan dengan keadilan untuk kelompok tertentu, apalagi individu tertentu.

Keadilan sosial yang juga harus dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat, seluruh usia, tidak mengenal etnis dan suku bangsa bahkan agama, dari bayi yang baru lahir hingga yang sudah tua renta, harus dapat menikmati keadilan sosial dan kesejahteraan ekonomi dari hasil hasil bumi ibu pertiwi.

Tidak boleh lagi ada anak anak balita kita yang kekurangan gizi, janda janda tua yang tidak tersantuni. Warga tak mampu yang tidak mendapatkan perhatian negara. Tidak boleh lagi ada sekolah sekolah yang rusak di pedalaman, kondisi fisik sekolah, haruslah sama antara sekolah yang di pedalaman dengan sekolah di perkotaan. Tidak boleh lagi ada, infrastruktur yang hanya terpusat di Jawa, sedang di kawasan Indonesia bagian timur, masih jauh tertinggal.

Setiap centimeter tanah pertiwi ini harus dikuasai oleh negara, di kelola oleh negara dan hasilnya di distribusikan dengan adil ke seluruh penjuru nusantara, ke seluruh rakyat Indonesia. Setiap warga berhak untuk menikmati hasil kekayaan negeri ini. Setiap warga negara berhak untuk mendapat keadilan sosial dan ekonomi dengan baik.

Sekali lagi tidak boleh lagi ada korporasi asing yang menjajah negeri ini dengan alasan kontrak kerjasama, tidak boleh lagi ada, kasus negara kalah oleh para mafia yang dibekingi asing, dan tidak boleh lagi ada, warga pribumi terkalahkan dan atau kalah saing dengan orang asing. Tidak boleh lagi ada, pribumi menjadi pembantu di negerinya sendiri, sedang asing menjadi tuannya.

Dari uraian diatas, setidaknya terdapat dua solusi yang dapat dilakukan pemerintah saat ini, yaitu:

Pertama, Nasionalisasi Perusahaan Asing yang beroperasi di Indonesia. Dengan menasionalisasi perusahaan, Indonesia dapat berdaulat di tanah nya sendiri. Dan pastinya, hasil hasil bumi Indonesia dapat seluruhnya dipergunakan untuk kemakmuran rakyat.

Apabila nasionalisasi tidak bisa dilakukan karena satu dan lain hal, maka jalan keluar selanjutnya ialah dengan TIDAK memperpanjang Kontrak Karya seluruh perusahaan asing yang beroperasi di Indonesia.

Data Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) kita menunjukkan bahwa, pendapatan APBN Perubahan tahun 2015 adalah sebesar Rp. 1.984 triliun, dengan sumber pendapatan dari sektor minyak dan gas sebesar Rp. 139,3 triliun, artinya rasio pendapatan dari sektor minyak dan gas kita "hanya" menyumbang sebesar 7,02% terhadap APBN kita.

Demikian juga dengan APBN 2016, pendapatan APBN 2016 sebesar Rp. 1.822,5 triliun, dengan sumber pendapatan dari sektor minyak dan gas sebesar Rp. 124,8 triliun, atau rasio terhadap APBN sebesar 6,8%, turun 0.22%.

Kalau kita bisa menasionalisasi dan atau menghentikan kontrak karya pertambangan di seluruh wilayah Indonesia, saya meyakini, pendapatan negara dari sektor minyak dan gas akan meningkat. Tidak nyanya mampu menyumbang 6 sampai 8 persen pertahun, akan tetapi bisa mencapai 40 sampai 50 persen pendapatan dalam APBN.

Dengan meningkatnya pendapatan di sektor minyak dan gas maka program program pemerintah khususnya dalam sektor pengentasan kemiskinan dan pemberdayaan masyarakat akan semakin leluasa. Dan yang tidak kalah penting, APBN kita tidak akan mengalami defisit anggaran

Kedua, hal yang tidak kalah penting yaitu dalam hal pendistribusian kekayaan dan hasil hasil kekayaan negara secara adil dan memenuhi rasa keadilan.

Dengan besarnya postur APBN dan digunakan langsung untuk kesejahteraan rakyat, tepat sasaran, tepat program dan pendistribusiannya, saya meyakini, gerak perekonomian dan daya beli masyarakat akan kembali bergairah, perputaran uang kembali terjadi di desa dan kota secara baik. Yang pada akhirnya akan mendorong perekonomian Indonesia tumbuh dengan baik.

Wallahu a'lam

Sumber data APBN: kemenkeu.go.id

Jumat, 01 April 2016

Hari Jadi Kota Sukabumi ke 102

Bismillah. Alhamdulillah hari ini kota sukabumi memasuki hari jadi nya yang ke 102, untuk tahun ini, tema yang di ambil adalah; Dengan Peringatan 102 Tahun Kota Sukabumi, Kita Tingkatkan Sinergitas Dalam Percepatan Pembangunan Untuk Mewujudkan Pemerintahan Yang Rahmatan Lil'Alamin.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia versi online/daring (dalam jaringan). Kata "Pembangunan" memiliki makna; cara, proses, perbuatan membangun. Tentu dalam konteks di atas, pembangunan dilakukan oleh pemerintahan kota Sukabumi maupun pemangku kepentingan beserta warga kota pada umumnya.

Hanya saja yang menjadi pertanyaan berikutnya ialah, pembangunan apa yang akan dilaksanakan, lebih tepatnya; fokus pada pembangunan apakah pemerintah kota pada tahun 2016 ini.

Setidaknya ada dua pembangunan yang urgent untuk dilakukan pemerintah kota, pertama pembangunan ekonomi (baca; penguatan ekonomi warga) dan kedua pembangunan manusia seutuhnya (baca; warga kota)

Masih menurut KBBI versi online, pembangunan ekonomi diartikan sebagai pembangunan dalam bidang ekonomi. Dalam konteks kehidupan kota, pembangunan ekonomi dapat diartikan terpenuhinya kebutuhan primer warga kota, sehingga tercipta kehidupan warga yang terpenuhi kebutuhan primernya, melalui tersedianya lapangan pekerjaan, terjangkaunya harga komoditas makanan pokok, dan pada akhirnya, angka pengangguran warga kota menurun.

Dalam konteks pembangunan ekonomi warga kota ini, penulis berharap dan sumbang saran, pemerintah kota dapat mengkampanyekan gerakan Satu Kelurahan Satu Baitul Maal wa Tamwil (BMT), dengan adanya BMT di setiap kelurahan, warga diharapakan dapat pro aktif memanfaatkan BMT sebagai lembaga keuangan untuk membantu keuangan keluarga melalui program program pemberdayaan BMT.

Saya yakin dan percaya, dengan dukungan pemerintah kota, maka pendirian satu BMT di setiap kelurahan dapat terwujud, serta keberadaan BMT dapat membantu warga dalam bidang ekonomi, dan yang paling utama adalah karena BMT merupakan lembaga keuangan yang insya Allah bebas riba.

Pembangunan berikutnya ialah pembangunan warga kota seutuhnya. Pembangunan manusia yang berahlak terpuji, memiliki kepribadian yang baik, budaya yang luhur, serta penganut agama yang taat. Ini adalah pekerjaan rumah terbesar pemerintah kota menurut saya. Pembangunan sarana dan prasarana penting, akan tetapi pembangunan manusia jauh lebih penting.

Tentu saja, cara yang paling efektif untuk membangun manusia yang utuh dan berkepribadian ialah melalui pendekatan agama. Banyak program kota yang dapat dilaksanakan seperti; mengkampanyekan wajib maghrib mengaji, pembatasan jam operasional warung internet (warnet) di jam malam, menghentikan kegiatan transaksi di pasar dan toko ritel pada saat memasuki waktu sholat, mengeluarkan surat edaran kepada seluruh PNS di lingkungan Pemerintah Kota untuk sholat berjamaah di awal waktu dan menghentikan segala aktifitas di saat sholat berjamaah, serta program program keagamaan lainnya yang insya Allah sebetulnya pemerintah kota saya yakini sudah punya program unggulan.

Akhir kata, semoga dengan hari jadi nya kota Sukabumi yang ke 102 di tahun ini, membawa kebaikan untuk warga, serta pembangunan dapat dirasakan secara nyata oleh warga dan tidak hanya sebatas slogan semata.

Untuk bapak walikota dan wakil walikota, selamat menjalankan amanah, membangun kota dengan hati, semoga Allah subhanahu wata'ala senantiasa melindungi dan menolong saya dan kita semua dalam menjalankan amanah yang di emban, untuk mewujudkan kota sukabumi yang reureug pageuh repeh rapih.

1 April 2016,

Rizal setiawan

Warga